Tampilkan postingan dengan label tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 Maret 2011
JAdilah Engkau SEkuntum Melati
“Kok akhwat itu nggak enak diajak ngomong yah?”
“Akhwat itu haram ngomong yah, kok gak pernah deh sharing atau diskusi sama aku”
“Iiih, so alim banget. Baru pake jilbab gede aje sombong”
“Duh, sayang banget yah. Wajah cantik, akhwat, kok gak enak di ajak ngomong”
“Apa memang islam itu kaku?”
Jika frame (sikap) akhwat seperti itu, bagaimana akan mencari simpatisan yang lebih banyak atau minimal pro lah??? Mereka ibarat bunga melati plastik, indah rupa namun tidak ada ruhnya. Hanya sekedar pajangan dan bila sudah berubah warna karena debu atau kotoran, dibuang begitu saja.
Minggu, 21 Maret 2010
CINTA TANDA KEHIDUPAN
Cinta adalah bahan dasar kehidupan sebuah kalbu manusia. Orang tidak punya cinta, kita lihat pada hakikatnya ia hanya menggenggam dunia dari kulit luarnya saja. Ia hidup ibarat sebuah mesin, tidak lebih dari pada itu. Bahkan jika kita telusuri ditengah-tengah belantara kemanusiaan ini secara umum, kita tidak mendapatkan siapa sebenarnya orang yang mencintai dengan cinta yang murni, dengan beragam obyek cinta dan tingkatan cinta mereka.
Di antara mereka ada yang mencintai ilmu. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk ilmu. Diantara mereka ada juga yang menjadikan harta sebagai kekasih satu-satunya. Diantara mereka ada juga yang menjadikan kedudukan dan jabatan sebagai tujuan hidupnya dan cita-citanya yang tertinggi. Diantara mereka ada yang hanya mendapatkan cinta pada tatapan mata sahabat-sahabat karibnya dan wajah-wajah mereka yang ceria.
Lihatlah mereka, setiap orang yang mencintai akan menghampiri apa yang mereka cintai. Kita saksikan betapa mereka hampir-hampir tidak ada yang mereka pikirkan kecuali bagaimana caranya agar bertambah semakin dekat dengan kekasihnya dan bagaimana caranya untuk meraih keridhaannya. Bahkan, bisa-bisa cinta yang tadinya menjadi bahan dasar kehidupan kalbu manusia berubah fungsinya menjadi penyebab kalbu manusia semakin tersiksa dan sedih, ketika pihak yang dicintai berpaling dari yang mencintai.
Cinta yang paling agung dan sempurna adalah cinta yang abadi. Sebuah cinta disaat kita merasakan ketentraman dan kedamaian yang luar biasa pada setiap harinya. Sebab, pihak yang dicintai tidak pernah meninggalkan yang mencintai. Bahkan, Dia selalu memaafkan kita jika kita bersalah. Dia tetap bersabar, ketika kita berpaling dari-Nya. Dia tidak pernah bosan bersama kita, hingga kita sendiri merasa bosan. Tidakkah kita melihat adakah disana cinta yang lebih mulia dan agung dari cinta-Nya? Ya. Ia adalah bara cinta dari Zat Yang Maha Penyayang, Allah swt. Maha Suci asma-asma-Nya. Dialah yang memiliki asmaul husna dan sifat-sifat yang agung.
Dengan demikian cinta itu ada dua motivasi: keindahan dan keagungan. Dalam hal ini Allah swt adalah satu-satunya Zat yang mempunyai kesempurnaan mutlak. Dia Maha Indah dan menyukai keindahan. Bahkan Dialah refleksi dari semua keindahan. Dan keagungan semuanya hanya pada zat-Nya.
Seseorang yang mencintai selain Allah swt, hakikatnya hanyalah mencintai sebagian dari makna keindahan yang Allah swt ciptakan. Barang siapa yang mabuk pada sesuatu dari penampilan luarnya, berarti ia telah mabuk pada sebagian kecil ciptaan Allah swt di alam raya ini.
Sesungguhnya cinta kepada Allah swt adalah nikmat yang tiada bandingnya. Cinta kepada Allah swt adalah kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan sesuatu apapun. Tidak akan ada yang dapat memaknainya kecuali mereka yang mencobanya. Tidak ada yang bisa merasakannya kecuali yang mengarunginya.
Referensi: Ajari Aku Cinta, Dr. Khalid Jamal
Di antara mereka ada yang mencintai ilmu. Ia menghabiskan seluruh hidupnya untuk ilmu. Diantara mereka ada juga yang menjadikan harta sebagai kekasih satu-satunya. Diantara mereka ada juga yang menjadikan kedudukan dan jabatan sebagai tujuan hidupnya dan cita-citanya yang tertinggi. Diantara mereka ada yang hanya mendapatkan cinta pada tatapan mata sahabat-sahabat karibnya dan wajah-wajah mereka yang ceria.
Lihatlah mereka, setiap orang yang mencintai akan menghampiri apa yang mereka cintai. Kita saksikan betapa mereka hampir-hampir tidak ada yang mereka pikirkan kecuali bagaimana caranya agar bertambah semakin dekat dengan kekasihnya dan bagaimana caranya untuk meraih keridhaannya. Bahkan, bisa-bisa cinta yang tadinya menjadi bahan dasar kehidupan kalbu manusia berubah fungsinya menjadi penyebab kalbu manusia semakin tersiksa dan sedih, ketika pihak yang dicintai berpaling dari yang mencintai.
Cinta yang paling agung dan sempurna adalah cinta yang abadi. Sebuah cinta disaat kita merasakan ketentraman dan kedamaian yang luar biasa pada setiap harinya. Sebab, pihak yang dicintai tidak pernah meninggalkan yang mencintai. Bahkan, Dia selalu memaafkan kita jika kita bersalah. Dia tetap bersabar, ketika kita berpaling dari-Nya. Dia tidak pernah bosan bersama kita, hingga kita sendiri merasa bosan. Tidakkah kita melihat adakah disana cinta yang lebih mulia dan agung dari cinta-Nya? Ya. Ia adalah bara cinta dari Zat Yang Maha Penyayang, Allah swt. Maha Suci asma-asma-Nya. Dialah yang memiliki asmaul husna dan sifat-sifat yang agung.
Dengan demikian cinta itu ada dua motivasi: keindahan dan keagungan. Dalam hal ini Allah swt adalah satu-satunya Zat yang mempunyai kesempurnaan mutlak. Dia Maha Indah dan menyukai keindahan. Bahkan Dialah refleksi dari semua keindahan. Dan keagungan semuanya hanya pada zat-Nya.
Seseorang yang mencintai selain Allah swt, hakikatnya hanyalah mencintai sebagian dari makna keindahan yang Allah swt ciptakan. Barang siapa yang mabuk pada sesuatu dari penampilan luarnya, berarti ia telah mabuk pada sebagian kecil ciptaan Allah swt di alam raya ini.
Sesungguhnya cinta kepada Allah swt adalah nikmat yang tiada bandingnya. Cinta kepada Allah swt adalah kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan sesuatu apapun. Tidak akan ada yang dapat memaknainya kecuali mereka yang mencobanya. Tidak ada yang bisa merasakannya kecuali yang mengarunginya.
Referensi: Ajari Aku Cinta, Dr. Khalid Jamal
Kesabaran yang Membawa Anugrah
Tak ada salahnya kita memutar kembali memori kita, mengingat kejadian-kejadian di mana manusia seakan-akan baru menyadari bahwa dirinya bukanlah segala-galanya. Harta yang selama ini dicari, dapat musnah hanya dalam hitungan detik. Bunga jemani yang selama ini dibangga-banggakan lenyap seketika. Rumah indah yang menjadi tempat berteduh, tidak tahu bagaimana bentuknya. Keluarga yang dicintai, entah berada di mana dan tidak tahu apakah masih bisa menghirup udara gratis yang Allah berikan, atau malah sudah berbeda alam dengan dirinya. Semuanya lenyap terbawa banjir, tertimbun oleh longsor. Lalu bagaimanakah sikap seorang muslim dalam menghadapi musibah yang menimpa? Haruskah merengek meminta segalanya untuk dikembalikan? Atau malah menyalahkan ketetapan-Nya?Semua itu adalah salah satu bentuk dari berbagai bentuk ujian yang Allah berikan kepada hamba-Nya, untuk mengukur seberapa besar kekuatan iman seorang muslim. Hal ini juga merupakan bentuk kecintaan Allah kepada hamba-Nya, yang sering disalah artikan sebagai bentuk kekejaman. Ingatlah, Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Allah berfirman:"لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا...""Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupnnya…" (QS.Al Baqoroh:286).Marilah kita bercermin kepada salah satu sosok mulia Ummul Mukminin yaitu Ummu Salamah. Dia seorang wanita yang memiliki harga diri yang tinggi dan cerdas. Ketika perang Uhud berkobar, Abu Salamah –suami Ummu Salamah sebelum Rasulullah - mengalami luka parah di lengannya. Dengan izin Allah, setelah beberapa hari mendapat perawatan, Abu Salamah pun sembuh. Akan tetapi, setelah beberapa lama luka yang menimpa Abu Salamah ketika perang Uhud terasa kembali. Sehingga membuatnya harus berbaring di tempat tidur. Suatu ketika, di masa sakitnya ia berkata kepada istrinya: "Wahai Ummu Salamah, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah, lalu ia mengucapkan Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Kemudian ia berdo'a, Allahumma ajirni fi mushibati waklifli khoiron minha (Ya Allah, berilah aku pahala karena musibah yang menimpaku ini, dan berilah aku ganti dengan yang lebih baik darinya), melainkan Allah akan mengabulkan do'anya." Sebagai seorang isteri yang sangat mencintai suaminya, Ummu Salamah begitu sedih dan telah merasakan dekatnya ajal orang yang dicintainya. Maka, ia pun merawat dan menjaga suaminya dengan sabar dan kasih sayang tanpa sedikit pun berkeluh kesah.Hingga di suatu pagi, Rasulullah datang menjenguk Abu Salamah. Dan belum sempat Rasulullah berpamitan, Abu Salamah wafat. Rasulullah pun menutup kedua mata Abu Salamah dengan kedua tangannya yang mulia. Kemudian menengadahkan pandangannya ke atas seraya berdo'a: "Allahummaghfir li Abi Salamah warfa' darojatahu fi muqorrobin, wakhluf fi 'aqibihi fil ghobirin, waghfir lana wa lahu ya Rabbal 'alamin." ( Ya Allah, ampunilah Abu Salamah, masukkanlah dia ke dalam golongan orang-orang yang dekat dengan-Mu. Berilah dia pengganti di kalangan keturunannya, dan di kalangan mereka yang masih hidup, dan ampunilah kami dan dia, wahai Robb Semesta Alam ).Ummu Salamah menghadapi musibah ini dengan penuh keimanan, dan pasrah terhadap ketentuan Allah. Ketika ingat sabda Rasul yang disampaikan Abu Salamah, ia pun berdo'a, "Allahumma ajirni fi mushibati wakhlifli khoiron minhu" (…dan berilah aku ganti yang lebih baik dari padanya). Dia bertanya-tanya dalam benaknya, "Siapakah orang yang lebih baik dari Abu Salamah yang bisa aku harapkan?" Akan tetapi ia meneruskan do'anya semata-mata sebagai bentuk ibadah.Ketika masa iddahnya telah habis, para pemuka dari kalangan sahabat segera meminang Ummu Salamah. Akan tetapi semua lamaran mereka ditolak oleh Ummu Salamah. Namun ketika Rosulullah meminangnya, Ummu Salamah menerima pinangan beliau. Sesaat kemudian ia teringat dengan do'a yang diajarkan Abu Salamah, "…wakhlufli khoiron minhu" (…dan berilah aku ganti yang lebih baik baik dari padanya)." Dalam hatinya pun Ummu Salamah berkata, "Memang beliaulah yang lebih baik dari pada Abu Salamah." Begitulah seharusnya yang kita lakukan ketika kita tertimpa musibah, menghadapi musibah dengan penuh keimanan, kesabaran dan selalu meminta pertolongan hanya kepada Allah. Janganlah meminta pertolongan kepada selain-Nya, karena tidak ada yang berhak memberikan pertolongan kecuali Allah semata. Adapun meminta tolong kepada makhluk-Nya hanyalah sebagai perantara dalam memberikan sebuah pertolongan. Akan tetapi ketika seorang muslim meminta hanya kepada Sang Kholiq yang menciptakan makhluk-Nya, maka Allah tidak akan pernah bosan untuk mendengar dan mengabulkan, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hamba-Nya dalam hal apa pun. Dan Allah-lah sebaik-baik tempat untuk meminta. Wallahu a'lam bishowwab
Langganan:
Postingan (Atom)


